Thursday, March 25, 2010
Beberapa kali dalam 2 minggu ini ketabrak masa lalu. Yang pertama ketemu
sama orang gebleg sableng gila gak mutu tapi kok mempesona ya. Haha
*ketawa kecut mode on*. Nggak aku udah gak punya rasa cinta ataupun
keinginan hidup bersama dengannya. Soalnya aku tau aku gak bakalan
bahagia. Karena dia cuma seorang b***ng** tengik yang gak peduli
perasaan orang. Orang terkurang ajar sedunia yang berani menggoda gadis
kampung lugu baik hati beriman dan bertaqwa trus ngabur begitu aja.
Jiahahahaha lebay deh. Tapi ya memang kalo gak bodoh dan gak gila kan
bukan cinta. Kalo gak bikin akal waras hilang seketika mah bukan cinta
juga kali ya namanya. Dan aku masih muda waktu itu. Masih bodoh surodoh.
Otak-ku kayaknya langsung tergadaikan begitu ketemu dia dan jatuh cinta
padanya. Kapanpun ketemu dia hidupku jumpalitan. Dan minggu kemaren
kejadian lagi. Ketemunya sih cuma sekilas. Tapi itu sudah cukup
menjumpalitkan hidup serta mengirimkan rasa dingin di dada. Gak enak
banget. Dan rese-nya adalah rasa gak enak itu bakalan terus ada didada
lumayan lama juga. Sementara mungkin dia gak kepikiran sama sekali.
Bodohnya.. bodohnya... Udah emak-emak gini masih bodoh pangkat tuju.
Tapi ya gimana, gak bisa dihindari. Yasudah adepin aja kan. Biarkan saja
waktu yang akan menyembuhkan segala.
Yang kedua tadi bongkar-bongkar laci meja. Nemu tulisan yang kubuat
bertahun-tahun yang lalu mengenai seseorang. Bukan orang yang diatas loh
ya. Orang yang berbeda. Orang bodoh gak punya mulut yang tidak bisa
berkata kalo dia cinta padaku. Orang bodoh gak punya hati yang gak
berani mencoba menjalin hubungan denganku. Orang bodoh gak punya kepala
yang bisa ditegakkan didepanku untuk setidaknya mengakui bahwa kami
berdua pernah punya masa indah bersama. Aku tau sih udah gak berguna
sekarang ini untuk tau semua itu. Tapi tanpa tahu kan jadinya bikin
penasaran. Kayak arwah yang mati gak wajar. Jadinya terus menghantui.
Pertanyaan-pertanyaan seringkali berloncatan dari hatiku. Tapi mungkin
jawabannya sederhana, bahwa dia tidak cukup mencintaiku untuk
memperjuangkanku. That's it. Cuma itu. Tapi teuteup aja bikin gemes.
Tetep aja bikin perasaanku jadi kayak kuntilanak yang belum dicabut
paku-nya. Hihi nggak banget ya analoginya. Pokoknya mah penasaran aja.
Pengen ketemu secara privat, trus denger pengakuannya. Well dia udah
minta maaf sih tapi tertulis. Buat aku sih sebenernya itu belum cukup.
Aku pengen denger dari mulut dia sendiri bahwa aku tidak berasumsi.
Bahwa semua dia lakukan karena dia cinta. Bukan karena asas manfaat.
Huah ngapain sih pagi-pagi nulis begini. Gak penting banget. Tapi ini
yang muncul di kepalaku ya udah aku tulis aja lah.
Buat kawan-kawan yang membaca gak usah penasaran yah. Ini emang curcol
tapi gak perlu dibahas. Buku tentang mereka memang belum tertutup
sepenuhnya. Tapi aku juga cuma bukanya kalo ketabrak doang kok. Soalnya
belum pernah nemu juga orang yang bisa imun dari masa lalu. Atau malah
udah lupa semua masa lalunya. Gak ada deh kayaknya. Yang ada mah orang
yang mau ngaku atau gak itu aja.
*jadi berandai-andai ada orang yang punya kemampuan menghapus memori
kayak di film "eternal sunshine in the spotless mind" soalnya pengen
menghapus bagian ini biar gak terbelenggu masa lalu, jiah bahasanya
syedap*
Posted at 12:10 pm by
andalusia
Permalink
Sunday, January 31, 2010
sepotong hatiku
tertinggal disudut jakarta yang penuh debu itu
pada mahluk bermata bulat
yang tatapannya menghilangkan pepat
sepotong hatiku
berlayar di tengah kampung yang hiruk pikuk
membayangkan mahluk kecil yang sedang memeluk
mimpi kecil dalam tidur siangnya
love you so much my little one
Posted at 09:49 am by
andalusia
Permalink
Monday, January 25, 2010
mesti menengok kemana aku
karna dikiriku yang ada gulita
sedang di kananku pekat membelenggu
Posted at 05:00 pm by
andalusia
Permalink
Tuesday, December 08, 2009
Aku sedang kehilangan kepercayan
Aku sedang kehilangan bahagia
Aku sedang kehilangan mimpi
Aku sedang kehilangan semua
Posted at 03:18 pm by
andalusia
Permalink
Monday, December 07, 2009
yang pasti ada marah
menggelegak seperti magma
di dasar hatiku yang merah
tapi atas nama rasionalitas kubungkus itu semua
kusimpan dan kucoba buang
tapi tiap kali ada seseorang
menyebutkan namamu
lantas segala ingatan terbang
pada semua kenangan bersamamu
dan segala hutang penjelasan
sungguh kuinginkan
mungkin itu bisa mendamaikan
Posted at 04:56 pm by
andalusia
Permalink
Friday, November 06, 2009
membaca cinta
dan yang ada
sakit terasa
bodohnya
masih kusimpan asa
bahwa selengkung garis hidup bersama
ada dihatinya
tololnya
tentu takkan ada
tentu takkan tersisa
Posted at 10:22 am by
andalusia
Permalink
Monday, August 31, 2009
kuntum cinta itu
tlah lepas satu-satu
menyisakan potongan hampa
yang menyelinap di aorta
tak kupahami kemana gerangan perginya
kuntum cinta itu
melayang bersama debu
menyisakan sepenggal sesak
yang terus mendesak
tak lagi tersisa
tak lagi ada
kita
meski sekuat apapun aku mencoba
menggenggam lukisan asa
tetap saja
semua perlahan menjauh
meneduh
dan luruh
kau
aku
bukan lagi siapa-siapa
tak lagi ada buhul yang menyimpul
jadi selamat tinggal
adios
Posted at 05:46 pm by
andalusia
Permalink
Aku merindukan peluk itu
hangat dan menenangkan
tempat semua rasa
terserap sempurna
aku merindukan peluk itu
sungguh rindu
Posted at 11:42 am by
andalusia
Permalink
Monday, June 01, 2009
dengan nanar kutatap wajah itu
wajah serupa madu
yang terbitkan sembilu
tapi padanya
kutitipkah hatiku
Posted at 08:27 pm by
andalusia
Permalink
Wednesday, May 20, 2009
Melihat dari dekat
membuat kita memahami
dengan lebih baik
melihat dari dekat
membuat kita melihat
sesuatu seperti adanya
dan tak lagi tertipu
oleh bayangan maya
melihat lebih dekat
membuat kita memahami realita
dan bukan fatamorgana
melihat lebih dekat
memang seringkali menyakitkan
tapi melihat lebih dekat
membuat kita
menjadi lebih bijaksana
(atau malah lebih terluka??)
Posted at 11:06 am by
andalusia
Permalink